Konsep Keadilan dalam Kebijakan Publik


Di kebijakan desegregasi sekolah, pengakuan keadilan dibuat oleh pimpinan hak-hak sipil dan pengacara untuk perlakuan yang adil antara warga kulit hitam dan putih. Hal ini diterjemahkan ke dalam permintaan untuk penutupan sekolah yang adil di lingkungan warga kulit hitam dan putih, akses yang sama dan partisipasi yang sama terhadap program pendidikan, tindakan disiplin dan hasil yang sama, dan “beban transportasi” yang sama. Pra rencana desegregasi “kebebasan pilihan” di tahun 1968 dianggap tidan adil oleh pimpinan hak-hak sipil tidak hanya karena mereka tidak mendesegregasi sekolah warga kulit hitam-secara virtual tidak ada warga kulit putih yang dipindah ke sekolah warga kulit hitam-tapi karena hanya warga kulit hitam yang dipindahkan. Keadilan dijelaskan sebagai jumlah dan proporsi warga kulit hitam dan putih yang seimbang menjadi beban dengan menghilangkan pilihan dan secara wajib menugaskan mereka. Sehingga, di dalam kebijakan desegregasi sekolah, keadilan menjadi seragam dengan kesamaan dan rencana penempatan wajib yang secara hati-hati diteliti untuk melihat apakah jumlah atau proporsi yang sama dari tiap ras telah diperintahkan.

Walaupun kritikus rencana sukarela-magnet telah sering mengutarakan kecurigaan bahwa, dalam rencana ini, lebih banyak minoritas daripada warga kulit putih akan memilih untuk meninggalkan sekolah awal mereka untuk sekolah lain dan sehingga akan menjadi beban tidak proporsional, bukti yang ada menyarankan bahwa perbedaan pada transfer dengan ras relative kecil, rata-rata, secara khusus ketika sebagian besar program magnet telah ditempatkan di lingkungan minoritas. Meskipun demikian, beberapa hakim telah memerintahkan penempatan wajib untuk mengganti sekolah nonmagnet, komponen transfer sukarela dari suatu rencana ketika kekurangannya hanyalah transfer yang tidak proporsional oleh siswa minoritas. Orangtua yang sama yang dulu memiliki pilihan sekolah yang didatangi anak mereka kemudian melihat mereka ditempatkan secara wajib, memikirkan keputusan untuk dapat disamakan karena siswa kulit putihpun juga terbebani dengan ditempatkan secara wajib. Survey, bagaimanapun, mengindikasikan bahwa baik orangtua minoritas dan kulit putih sangat memilih rencana desegregasi apapun dengan sekolah lingkungan dan transfer sukarela daripada rencana penempatan wajib (Armor dan Rossel 1986, 1990a, 1990b, 1990c; Armor 1990).

Lebih jauh lagi, bahkan jika rencana penempatan wajib nampak mempunyai beban yang sama di atas kertas, kenyataan setelah implementasi mungkin dapat cukup berbeda. Ketika warga kulit putih meninggalkan system sekolah dalam jumlah yang tidak proporsional, seperti yang terjadi dalam rencana wajib, warga kulit hitam dan Hispanik secara pasti mendapatkan beban transportasi, bahkan jika mereka seharusnya tidak mendapatkan seperti yang ada di rencana proposal-sebuah fakta yang mereka sadari (Cooper, 1982; “Keeping Boston Whole” 1987).

Alasan paling penting yang mungkin bahwa rencana sukarela lebih adil daripada rencana wajib ialah bahwa mereka memberikan kekuasaan lebih kepada orangtua kulit hitam dan tidak mampu daripada rencana lainnya. Sebuah rencana penempatan wajib menawarkan pilihan kepada orang yang mampu, yang dapat meninggalkan system sekolah, tetapi tidak kepada warga yang tidak mampu yang harus tinggal dan mereka yang memiliki sedikit pilihan atau tidak sama sekali tentang sekolah mana yang akan dimasuki oleh anak mereka. Rencana sukarela dengan sekolah magnet, sebaliknya, menawarkan pilihan kepada orang yang tidak memiliki kuasa-mereka yang tidak mampu bersekolah di sekolah swasta. Selama ada perbedaan di pilihan kulit putih dan minoritas, minoritas akan diharapkan lebih sering ditransfer daripada kulit putih. Tetapi jika mereka diberi kebebasan untuk memilih, saya yakin akan muncul di pikiran bahwa hal ini adalah suatu beban.

Ada, bagaimanapun, kekurangan lain dari sekolah magnet yang mengurangi daya mtariknya kepada orangtua minoritas dan bahwa mereka membuat keunggulan keadilan menjadi lebih kacau. Yang pertama, adanya isu perbedaan antara sekolah magnet dan sekolah regular. Jika sekolah magnet hanya ada di lingkungan minoritas, maka kekurangan tersebut akan berkurang. Kebanyakan distrik sekolah, bagaimanapun, tidak membatasi magnet mereka hanya kepada lingkungan minoritas sehingga magnet di lingkungan kulit putih seringkali dilihat sebagai sekolah elit. Yang kedua, banyak sekolah magnet yang berdiri sebagai sekolah-di dalam-sekolah dengan pendaftaran program magnet yang kecil yang diseimbangkan secara ras (secara umum 50% kulit putih dan 50% minoritas) dan populasi lingkungan penduduk yang luas yang tidak terdaftar di kurikulum magnet dan berinteraksi dengan populasi magnet hanya pada sebagian waktu. Walaupun sumber daya magnet secara umum dibuat untuk ada di populasi lingkungan, masih ada perasaan diantara banyak orang bahwa ini merupakan kekurangan karena anak-anak lingkungan hanya menerima integrasi paruh waktu. Sehingga rencana desegregasi sukarela-magnet bukanlah tanpa cacat, tetapi saya akan berpendapat bahwa rencana kekurangannya lebih sedikit disbanding rencana lain dimana tidak ada pilihan dan hak terhadap sekolah lingkungan.

Artikel ini diterjemahkan oleh Dian Translation 

Tanya Admin
Tanya admin.
Dian Translation
Hai, Kakak.
Butuh jasa translate, proofreading, Turnitin, atau parafrase?
Chat di sini ya!