Pola Interaksi Konflik

Pola Interaksi Konflik – Perspektif sosial menunjukkan bahwa konflik tidak pernah merupakan hasil dari tindakan seseorang saja. Hasilnya selalu merupakan produk dari interaksi antar pihak. Apa yang akan terjadi bila seseorang menggunakan gaya kompetitif dan yang lainnya menggunakan gaya akomodatif? Bagaimana hasilnya akan berbeda jika seorang komunikator yang selalu berpikiran kompetitif berinteraksi dengan seorang yang selalu menghindari? Bagaimana hal ini bisa berjalan jika seseorang ingin berkolaborasi, namun yang lainnya merespons sebagai seorang yang akomodatif? Dengan kata lain, konflik “tampak” bergantung pada bagaimana semua pihak merespons satu sama lain.

Pola Interaksi konflik

Sebagaimana disebutkan pada bab 2, metafora permainan bermanfaat untuk mendeskripsikan proses ini. Gerakan, atau putaran, dalam percakapan mengikuti pola permainan yang membantu kita memahami apa yang sedang terjadi dengan memperhatikan peraturan yang mendefinisikan kegiatan tersebut. Kita menggunakan peraturan yang berbeda, katakanlah, untuk “menghukum” dan untuk “menghibur.” Kita menggunakan peraturan yang berbeda untuk “menghibur sahabat kita” dengan “menghibur orang yang hanya kita kenal.” Maka, interaksi disusun dengan peraturan bermakna yang mengarahkan tindakan apa “yang dianggap”, dan peraturan tindakan yang mengarahkanmu bagaimana meresponsnya. Kamu tahu ketika orang asing mengatakan, “Hi, bagaimana kabarmu,” itu adalah salam dan bukan pemeriksaan kesehatanmu; dan kamu tahu respons yang tepat adalah, “Baik. Bagaimana denganmu?” Peraturan tersebut akan berbeda ketika kamu berbicara dengan anak, dokter, atau teman.

Pola repetisi yang tidak diinginkan bisa saja membingungkan karena serasa tidak mungkin dipatahkan. Kamu tahu permainannya, kamu memainkannya dengan baik, namun kamu berharap tidak memainkan permainan tersebut dan tampak tidak mempunyai daya untuk mengubah pola interaksinya. Banyak suami dan istri, orang tua dan anak, dan rekan kerja hidup dengan pola konflik yang tidak dinginkan dalam waktu yang panjang. Hal tersebut bisa juga terjadi antar negara bertetangga, sebagaimana tergambar dari konflik Israel-Palestina.

Pola interaksi konflik mudah dilihat dalam level interpersonal. Namun sulit dirasakan dalam struktur sosial yang lebih besar, organisasi, institusi, negara, dan masyarakat secara luas. Karena, seluruh interaksi—bahkan dalam level makro—berdasarkan pada peraturan yang muncul melalui komunikasi secara terus menerus, mempunyai makna, kurang lebih stabil, dan bisa saja diinginkan maupun tidak. Pada bagian selanjutnya, kita akan menilik beberapa struktur yang lebih besar ini.

Tulisan berjudul “Pola Interaksi Konflik” ini merupakan portofolio Dian translation. Jika kamu membutuhkan jasa translate dan proofreading, silakan kontak kami via WhatsApp: 085228001002.