Konflik dan Institusi Sosial

Institusi sosial merupakan susunan skala besar yang telah bertahan dari ujian waktu dan memainkan fungsi sosial yang penting. Keluarga, agama, pendidikan, politik, ekonomi, dan pemerintah merupakan contoh dari institusi sosial. Sebuah institusi sosial merupakan sebuah rangkaian keyakinan, norma, atau prosedur yang digunakan bersama dan penting untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Jika kita menjadi anggota sebuah komunitas atau masyarakat, kita hidup dalam serangkaian institusi sosial.
Baik sederhana ataupun kompleks, kita mendengar banyak institusi sosial tersebut setiap hari. Keluarga mempunyai standar perilaku yang ditransfer dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Kita melahirkan dan membesarkan anak, mengajari mereka untuk mengambil alih tugas generasi sebelumnya untuk tetap menjaga masyarakat terus berjalan. Institusi pendidikan mengajarkan orang untuk menjadi kontributor yang efektif untuk ketertiban dan stabilitas masyarakat. Institusi ekonomi menyediakan makanan, tempat berlindung, pekerjaan, perbankan, dan layanan yang kita perlukan untuk hidup. Institusi politik menghasilkan dan menegakkan undang-undang untuk memberikan masyarakat kebebasan untuk menjalani kehidupannya dalam masyarakat yang tertib.

Institusi Sosial

Institusi tersebut tidak hanya dasar dari kepuasan dan kemakmuran, namun juga bertentangan dengan perubahan dan cenderung untuk mendukung status quo. Institusi tersebut saling meliputi satu sama lain dan membutuhkan cara yang terintegrasi untuk menangani perubahan. Jika sebuah aspek dalam institusi membutuhkan perhatian atau menghadapi konflik, sulit untuk meningkatkan bagian yang membutuhkan perhatian tanpa memindah keseluruhan gajah.

Gereja biasanya merupakan institusi keagamaan yang tersusun baik dengan struktur keyakinan, ritual, dan otoritas yang telah diformulasikan. Ketika dunia kita mengalami perubahan yang masif karena revolusi teknologi, gereja mendapat tantangan dari televangelisme, persoalan global di ruang keluarga, kehidupan yang lebih sibuk dari sebelumnya, dan langkah yang memberatkan hidup. Bagaimana pemimpin gereja dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut? Apakah gereja mengembangkan pelayanan ibadah kontemporer yang menarik dengan semua jenis musik, potongan teologis yang cepat, dan mempertimbangkan upaya-upaya keragaman dan inklusi? Atau, apakah pemimpin gereja terus menganggap benar semua keyakinan dan tradisi lama yang banyak jamaah bergantung padanya dan mengingatnya, seperti liturgi, himne, pernyataan keyakinan yang kuat, dan doa yang sungguh-sungguh? Apakah gereja berinteraksi dengan institusi politik dan terlibat dalam mendukung kandidat? Apakah gereja berinteraksi dengan institusi pendidikan dan merekomendasikan kurikulum (kreasionisme vs. evolusi)? Apakah gereja berinteraksi dengan institusi keluarga dan mencoba mempengaruhi opsi pengendalian kelahiran? Manajemen konflik dalam contoh-contoh tersebut membutuhkan upaya yang kompleks dan gigih yang menunjukkan keseimbangan antara kemunculan perubahan dan menjadi arsitek perubahan.

Teks di atas merupakan portofolio jasa translate atau penerjemahan yang dikerjakan oleh Dian Translation.